Benar firasatku. Bukan Vina namanya kalau tidak mengomel seperti itu. Suaranya yang cempreng membuat aku harus menjauhkan HP dari telingaku. Vina tidak pernah menelponku di siang hari seperti ini. Kecuali untuk memaksaku mendengarkannya omelannya.
“Iya, Vina. Bagaimana aku jawab kalau kamu bicara terus?” Ucapku lesu. Terdengar suara tawa disana. “Aku harus bagaimana? Itu hak dia Vin.”
“Raka kok gitu? Jangan mau di butakan cinta Ka. Aku tahu kamu tersakiti. Raka jangan nangis ya. Anak kaya gitu jangan di sukai lagi Ka. Hilangin perasaanmu ke dia. Aku nggak mau kamu sakit gara-gara dia.” Kali ini ucapan Vina membuatku tertawa. “Raka? Kamu jadi gila?” Tanya Vina.
“Aku sudah bilang aku baik-baik saja Vin. Sudah jangan seperti anak kecil.” Ucapku.
“Kalau kamu terus mengejar dia dan membiarkan dia menyakiti hatimu, aku akan mengungkapkan semua padanya dan akan membencinya.” Ucap Vina lalu mematikan telepon.
Bintangku kini bersinar terang sekali
Terbukti tak hanya aku yang merasa menjadi makhluk dengan pancaran sinarnya
Selamat untukmu, kini bintang telah bertemu rembulan di langit yang sama
Aku mengirimkan e-mail itu pada Titian malam ini sambil memandangi kerlip bintang dari jendela kamarku. Aku tidak merasa tersakiti sedikitpun. Mungkin Vina benar. Aku telah di butakan oleh cinta.
“Raka, sini!” Panggil sesosok anak kecil dengan baju berwarna merah marun berpita. Aku menghampirinya secara perlahan.
“Raka aku punya permainan. Kita harus menulis harapan antara satu sama lain di selembar kertas dengan bolpoin khusus. Satu harapan setiap minggunya. Lalu kita simpan harapan kita di kaleng sebelum di tukarkan. Tapi, setelah di tukar, kita tidak boleh membacanya sendirian. Kita harus membacanya di hadapan satu sama lain setiap akhir pekan. Tidak boleh curang ya Raka. ” Jelas anak kecil itu sambil memberiku setumpuk kertas berbentuk hati, kaleng dan bolpoin berwarna biru.
“Karena kamu laki-laki warnamu biru. Kamu kan juga suka biru. Punyaku merah marun.” Ucapnya sambil tersenyum. Sebuah senyum yang selalu aku kenali.
Kriinnggg. Alarmku berbunyi. Sudah pukul setengah enam pagi. Rupanya aku baru saja bermimpi. Karena mimpi itu aku bangun terlambat. Aku segera mandi dan berkemas kemudian berangkat sekolah.
“Raka!” Panggil suara cempreng yang khas dan sangat aku kenali setiap pagi. Aku tetap berjalan menatap lurus ke arah bintang dan rembulan yang duduk bersama meskipun hari masih pagi.
“Raka. Jangan sedih begitu dong Ka. Senyum dong.” Ucap Vina sambil tersenyum di hadapanku. Senyum yang khas. “Hari ini hari bertukar. Ini kertasku. Kalau kamu sudah menulis, nanti berikan kertasmu padaku ya Raka.” Ucapnya sambil meninggalkanku.
Ya, anak kecil di mimpiku itu adalah Vina. Dia yang menciptakan permainan ini sejak kami masih kecil. Vina menulis harapan yang berbeda setiap minggu untukku. Tapi aku hampir selalu menuliskan harapan yang sama padanya. ‘Jangan terlalu cerewet, suaramu jelek’. Itu harapanku, menggodanya. Vina selalu tertawa sambil manyun ketika membaca.
“Raka, Tian jelek Ka.” Kata Vina membuka pembicaraan ketika aku memboncengnya pulang. Kata ‘jelek’ selalu di ucapkan Vina untuk orang yang menyakiti hatinya.
“Emang dia kenapa Vin?” Tanyaku.
“Dia lupa teman Ka. Seharian dia tidak menyapaku. Sibuk sama Prabu” Ucap Vina sambil manyun.
“Vina bisa kamu dekatkan kepalamu ke telingaku sebelah kanan?” Pintaku dan Vina mengabulkannya. “Lebih maju lagi.” Lalu aku menarik hidungnya dengan tangan kiriku sementara tangan yang lain menyetir.
“Raka! Kamu selalu begitu! Menyebalkan.” Teriak Vina kemudian kami tertawa.
Setahuku bintang tidak memiliki orbit, tapi entah kenapa kali ini berbeda
Bintang berjalan di luar orbitnya mengikuti rembulan
Dia lupa akan bumi yang membutuhkan pancaran sinarnya ketika malam menjelang
E-mail itu aku kirimkan sesaat sebelum aku tertidur.
“Kamu Raka?!” Ucap Prabu di depan gerbang saat pulang sekolah.
“Iya.” Jawabku. Tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di wajahku. Aku tak mengerti. “Ada apa ini?” Tanyaku.
“Jangan banyak bicara! Selama ini kamu kan yang mengirim e-mail kepada Tian?! Dia pacarku! Jangan pernah mengirim e-mail lagi padanya!” Ucapnya kemudian memukulku bertubi-tubi hingga aku tak mengingat apa-apa lagi.
“Raka?” Sebuah suara, wajah samar dan tetesan air mata jatuh tepat di wajahku ketika aku membuka mata. Vina. Dia memandangiku kemudian memelukku dan menangis di pundakku. “Aku pikir kamu akan mati Ka.” Ucap Vina dengan raut wajah khawatir. Tidak pernah aku melihat Vina seperti ini.
Pesan yang tak tersampaikan, part 2
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar